SUGAWA.ID– Dalam dunia budaya populer Jepang, istilah chuunibyou sering diucapkan dengan nada geli sekaligus iba. Secara harfiah berarti “penyakit kelas dua SMP”, chuunibyou menggambarkan fase remaja yang merasa dirinya memiliki kekuatan tersembunyi, pengetahuan rahasia, atau takdir istimewa yang memisahkannya dari orang biasa.
Namun di balik kelucuannya, chuunibyou meneggambarkan keinginan manusia untuk menolak kenyataan yang datar, untuk hidup dalam dunia yang lebih bermakna, walau harus membayangkannya sendiri.
Menariknya, gejala ini tidak hanya berlaku di konteks modern Jepang. Empat abad sebelum istilah chuunibyou lahir, Miguel de Cervantes telah menulis sosok yang hampir identik dalam novel klasiknya Don Quixote (1605). Seorang pria paruh baya yang menolak kenyataan dunia biasa dan memilih menjadi kesatria pengembara dalam bayangannya sendiri. Dari sinilah kita melihat bahwa chuunibyou bukan hanya “penyakit remaja”, melainkan sisi manusiawi yang universal: kerinduan untuk hidup di dunia yang lebih heroik daripada kenyataan.
Don Quixote dimulai dari kisah Alonso Quixano, seorang bangsawan miskin yang terlalu banyak membaca kisah kepahlawanan. Dalam benaknya, dunia masih dipenuhi naga, penyihir, dan perempuan bangsawan yang perlu diselamatkan. Ia menamai kudanya Rocinante, menyebut seorang gadis desa sebagai Dulcinea del Toboso (wanita idaman), dan mengenakan baju zirah tua untuk berpetualang melawan kejahatan yang hanya ada dalam pikirannya.
Bagi masyarakat sekitar, Quixano adalah orang gila. Namun dalam perpektif Quixano, itu adalah sebuah kepercayaan, percaya bahwa dirinya ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar, bahwa hidup ini memiliki misi heroik tersendiri.
Don Quixote adalah bentuk klasik dari chuunibyou: seseorang yang menolak realitas dangkal dan menciptakan dunianya sendiri. Ia tidak sekadar berkhayal; ia hidup di dalam khayalannya. Ia tidak ingin sekadar menjadi Alonso Quixano yang biasa, tapi Don Quixote de la Mancha — sang ksatria idealis yang memperjuangkan keadilan, walau seluruh dunia menertawakannya.
Miguel de Cervantes menulis Don Quixote sebagai satire terhadap kisah kesatria yang sudah usang. Namun dalam perkpektif modern, Don Quixote justru meiliki makna mendalam. Di dunia yang semakin sinis, ia mengingatkan kita akan pentingnya mempertahankan imajinasi dan keberanian untuk bermimpi — bahkan jika itu berarti tampak konyol.
Mungkin yang membedakan orang “gila” dan orang “berani” hanyalah sejauh mana dunia bersedia menerima mimpi mereka. Don Quixote gagal mengubah dunia, tapi ia mengubah cara kita memandang realitas. Begitu pula chuunibyou: ia mengajarkan bahwa di balik fantasi, ada keinginan tulus untuk menjadi seseorang yang ingin melampaui batas.








