SUGAWA.ID– Istilah “Tionghoa” (Tionghoa) sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Istilah ini sering muncul dalam diskusi tentang budaya, sejarah, dan identitas etnis. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa istilah ini berakar dari sejarah panjang, yang mencerminkan persimpangan antara bahasa, politik, dan peradaban. Kata “Tionghoa” (Tionghoa) bukan sekadar istilah etnis, melainkan simbol identitas yang telah berkembang seiring waktu.
Akar Kata Zhonghua
Secara linguistik, istilah “Tionghoa” berasal dari pelafalan bahasa Hokkien untuk Zhonghua (中华), yang berarti “Tengah Agung” atau “Bangsa Agung di Tengah Dunia.” Kata ini berakar pada pandangan dunia Tiongkok kuno, di mana bangsa mereka dianggap sebagai “pusat peradaban” atau Kerajaan Tengah Zhongguo (中国).
Dalam bahasa Mandarin modern, Zhonghua sering digunakan untuk merujuk pada konsep kebangsaan Tiongkok yang lebih luas, seperti dalam nama resmi Republik Rakyat Tiongkok (Zhonghua Renmin Gongheguo) atau Republik Tiongkok di Taiwan (Zhonghua Minguo). Namun, jauh sebelum menjadi simbol politik, Zhonghua merupakan simbol budaya dan peradaban yang berakar pada sejarah ribuan tahun.
Perjalanan Istilah ke Nusantara
Ketika gelombang imigran Tionghoa mulai berdatangan di Nusantara pada abad ke-15, mereka membawa bahasa daerah mereka masing-masing Hokkian, Hakka, Kanton, dan Teochew. Dalam percakapan sehari-hari, istilah Zhonghua diucapkan dalam berbagai dialek. Dalam bahasa Hokkien, istilah ini diucapkan “Tionghoa,” sementara dalam bahasa Hakka sering disebut “Tung Hoa.”
Para imigran ini kemudian dikenal penduduk setempat sebagai “Orang Tionghoa,” sementara negara asal mereka disebut “Cina.” Istilah ini berkembang terutama di wilayah pesisir seperti Batavia, Semarang, Surabaya, dan Medan, tempat komunitas Tionghoa Peranakan berkembang pesat.
Dari “Tionghoa” ke “Tionghoa”: Sebuah Perubahan yang Bermakna
Sebelum istilah “Tionghoa” populer, komunitas kolonial Belanda menggunakan istilah “Cina” atau “Chineezen” untuk merujuk pada etnis Tionghoa. Namun, kata “Cina” kemudian berkonotasi negatif, terutama selama periode diskriminasi sosial dan politik. Istilah ini dianggap ofensif karena nadanya yang merendahkan selama masa penjajahan dan awal kemerdekaan.
Sebagai bentuk penegasan identitas mereka, komunitas Peranakan mulai menggunakan istilah “Cian” secara ekstensif pada awal abad ke-20. Surat kabar Melayu-Tionghoa seperti “Sin Po” dan “Keng Po” menjadi media utama yang mempopulerkan penggunaan istilah ini. Mereka menulis dengan gaya yang memadukan nasionalisme Indonesia dengan akar budaya Tionghoa, menciptakan jembatan antara dua dunia.
Makna Sosial dan Politik
Penggunaan istilah “Cian” memiliki dimensi politik yang kuat. Selama masa pergerakan nasional, sebagian besar kaum Peranakan mulai meninggalkan pandangan mereka yang berpusat pada Tiongkok dan menegaskan kesetiaan mereka kepada Indonesia. Dalam konteks ini, istilah “Cian” dipilih karena dianggap lebih terhormat dan menandakan hubungan yang setara antara komunitas Tionghoa dan bangsa Indonesia.
Istilah “Cian” (Tionghoa), yang pernah dipaksakan oleh pemerintah kolonial, secara bertahap digantikan oleh “Tionghoa Hwee Koan” (Tionghoa) di berbagai media, sekolah, dan organisasi. Misalnya, organisasi seperti Tionghoa Hwee Koan (THHK), yang didirikan pada tahun 1900 di Batavia, memainkan peran penting dalam memajukan pendidikan dan budaya Tionghoa di Hindia Belanda. THHK bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simbol kebangkitan identitas etnis modern yang berakar pada nilai-nilai Konfusianisme.
Perubahan di Era Modern
Namun, perjalanan istilah ini tidak selalu mulus. Pada masa Orde Baru, istilah “Cian” (Tionghoa) untuk sementara dihapus dari penggunaan resmi. Pemerintah mengembalikan istilah “Cina” (Tionghoa) dalam dokumen-dokumen negara, sementara segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa mulai dari perayaan Tahun Baru Imlek hingga nama sekolah dilarang di ruang publik.
Istilah “Cian” (Tionghoa) baru resmi dihidupkan kembali setelah reformasi 1998. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan budaya Tionghoa dan mengembalikan rasa hormat terhadap keberagaman.
Sejak saat itu, istilah “Cian” kembali menjadi bagian penting dalam perbincangan nasional. Saat ini, istilah “Cian” (Tionghoa) tidak hanya menunjukkan asal-usul etnis tetapi juga menandakan warisan sejarah panjang integrasi budaya di Indonesia. Ini telah menjadi simbol persaudaraan antara dua peradaban besar kepulauan Indonesia dan Cina yang telah berinteraksi selama berabad-abad.
Lebih dari Sekadar Nama
Istilah “Tionghoa” kini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar sebutan etnis. Istilah ini mencerminkan perjuangan, asimilasi, dan kebanggaan akan identitas pluralistik. Bagi banyak orang Tionghoa-Indonesia, menyebut diri mereka Tionghoa berarti mengakui dua hal sekaligus: akar leluhur mereka di Tiongkok dan tanah air sejati mereka di Indonesia.
Kata ini juga berfungsi sebagai jembatan sejarah sebuah pengingat bahwa hubungan antara Indonesia dan Tiongkok dibangun bukan hanya oleh diplomasi negara, tetapi juga oleh kisah-kisah manusia: para pedagang, pelajar, tabib, dan keluarga yang menyeberangi lautan, membawa harapan dan budaya.
Kesimpulan
Sejarah nama Tionghoa menunjukkan bagaimana bahasa dapat mencerminkan dinamika identitas. Dari Zhonghua di Tiongkok daratan hingga Tionghoa di kepulauan Indonesia, istilah ini telah mengalami perjalanan panjang dari simbol budaya menjadi simbol nasional, dan kini menjadi lambang kehormatan.
Nama ini membuktikan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang tetap. Ia terus berubah, beradaptasi dengan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Dalam setiap nama, Tionghoa tidak hanya tentang asal-usul seseorang, tetapi juga tentang bagaimana mereka menjadi bagian dari Indonesia yang beragam.













